Boleh saja Saifullah Yusuf (Gus Ipul) berjargon: “Tidak ada Mataraman dan Tapal Kuda, hanya ada Jatim satu”. Namun realita tak dapat ditampik, Jawa Timur terpecah secara sub-kultur, dengan masing-masing membentuk basis pemilih.

 

Mataraman meliputi Tulungagung hingga Banyuwangi; Arek meliputi Surabaya hingga Malang; dan Tapal Kuda meliputi daerah Probolinggo hingga Madura.

Ketiga kawasan itu memiliki aliran politiknya masing-masing. Mataraman yang bercorak abangan atau nasionalis; Arek tempatnya pemilih rasional; sedangkan Tapal Kuda merupakan basis pemilih berlatar santri. Persis seperti pembagian karakter (trikotomi) abangan-santri-priyayi menurut Clifford Geertz.

 

Menguasai Budaya, Menguasai Suara

Wilayah Arek adalah wilayah orang-orang muda dan para pemilih rasional dengan pengetahuan politik yang lebih maju. Maka akan efektif jika para kandidat memanfaatkan media sosial dan kreatif guna meyakinkan calon pemilihnya.

Emil Dardak dan Arumi Bachsin -Sang Istri, adalah pasangan artis muda yang menjadi pejabat daerah, merupakan modal yang tidak dimiliki oleh kandidat lain. Usia keduanya yang masih sangat muda dan tergolong generasi Y, adalah representasi dari pemilih milenial. Di sinilah mereka unggul.

Sedangkan untuk dapat menguasai Mataraman, seharusnya keberadaan partai dan figur nasionalis menjadi kunci. Meski demikian, nama Puti Guntur Soekarno sebagai representasi figur nasionalis Bung Karno ternyata tidak cukup ampuh dalam menggaet suara kaum abangan Ngawi, Pacitan, Kediri, Tulungagung, bahkan Madiun dan Tuban.

Dalam kesempatan waktu yang tinggal sedikit, tampaknya Puti yang berpasangan dengan Gus Ipul tidak akan mampu banyak melakukan perubahan-posisi-dukungan di wilayah ini. Peluang keduanya semakin kecil untuk mengungguli pasangan Khofifah-Emil.

Kini, tersisa wilayah Tapal Kuda, yang memang sudah semestinya dikuasai oleh para calon gubernur, karena keduanya berasal dari kalangan santri NU. Namun di sini pun Gus Ipul tampak kurang meyakinkan, terlihat dengan lontaran jargonnya “tidak ada Mataraman dan Tapal Kuda, hanya ada Jatim satu”.

Dari sisi etnografis, sejarah panjang pemberontakan di wilayah Tapal Kuda, adalah sejarah karakter budaya masyarakat-kelas yang identik dengan perjuangan Islam dan Nahdlatul Ulama (NU). Mitologi Minak Djinggo, Untung Suropati, hingga Sakera dan Pangeran Situbondo, adalah kisah-kisah kepahlawanan tokoh lokal yang berhasil memperoleh dukungan dari rakyat, hingga beberapa sanggup membangun kekuasaan.

 

Membaca Peluang Kandidat

Pertarungan Gus Ipul melawan “saudari satu rumah”, memang bukan perkara mudah. Meski satu guru satu ilmu, Khofifah Indar Parawansa nyata lebih populer di kalangan Nahdliyin. Sosok Khofifah tampak lebih dekat pada sebagian besar masyarakat Jatim bagian timur dan barat, yakni wilayah Tapal Kuda dan Mataraman. Khofifah juga dianggap memiliki sepak terjang yang matang dan berpengalaman di kancah politik nasional.

Melalui badan otonom Muslimat NU, di mana dirinya masih menjadi ketua umum, dan Fatayat NU, Khofifah akan menguasai suara perempuan NU. Menguasai suara perempuan, berarti menguasai suara 'satu rumah': bapak, dan anak-anak remajanya.

Maka, peluang tampuk pimpinan Jawa Timur dapat terbaca di sini. Kemenangan kandidat dalam merebut hati rakyat Tapal Kuda, adalah tiket masuk ke singgasana Gubernur. (Ad Agung Sulistyo)

Category: Scrutiny 2018

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate