Elektabilitas Joko Widodo dan Prabowo mengalami penurunan. Mungkinkah hasil survei dan polling yang dimunculkan hanya sebuah taktik politik belaka?

Survei Median yang dilakukan pada 1-9 Februari 2018 menunjukkan elektabilitas yang menurun pada petahana Presiden Jokowi dan Ketum Gerindra Prabowo Subianto. Kompas.com (22/2/2018) melansir, responden yang memilih Jokowi sebesar 35 persen, turun 1,2 persen dari survei bulan Oktober 2017. Demikian pula dengan Prabowo, dari 36,2 persen menjadi 21,2 persen.

 

Direktur Eksekutif Median Rico Marbun berujar, bahwa Jokowi dan Prabowo mulai memudar elektabilitasnya. Sedangkan ‘penantang’ kedua tokoh justru mengalami peningkatan –meskipun masih jauh dari kemungkinan menang. 

Mantan Panglima TNI Gatot Nurmantyo dipilih oleh 5,5 persen responden, naik dari yang sebelumnya hanya 2,8 persen. Sedangkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan naik tipis, dari 4,4 menjadi 4,5 persen. Demikian pula Komandan Satuan Tugas Bersama Pilkada 2018 dan Pilpres 2019 dari Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengalami peningkatan dari semula di bawah 1 menjadi 3,3 persen.

Membaca survei tersebut, benarkah itu berarti apapun upaya Jokowi sebagai petahana untuk memperbaiki kinerjanya, tak dapat mendongkrak suara untuk menang dalam Pemilu Presiden 2019? Demikian pula dengan Prabowo yang merosot 15 persen, apakah sudah dapat dipastikan akan tumbang?

 

Poros Ketiga: Siapa Pemainnya?

Bagaimanapun, survei ataupun polling yang dirilis oleh Median maupun lembaga sejenisnya tidak dapat menjadi ukuran hasil akhir Pemilu. Mencermati secara komprehensif hasil survei dengan persoalan riil politik, terlihat bahwa rilis-rilis yang dimunculkan cenderung menjadi bagian dari taktik politik menuju 2019. Seolah ingin memuluskan wacana munculnya ‘poros ketiga’ selain Jokowi dan Prabowo. Siapa yang akan termakan oleh taktik ini? Masyarakat kah, atau elit politik yang ingin mengadu nasib masuk ke ajang elektoral sebagai penantang?

Kredibilitas, serta latar belakang dan orientasi lembaga survei tidak boleh dilepaskan begitu saja dari hasil survei yang dirilisnya. Realitanya kini sebuah survei dapat dijadikan media campaign, bahkan alat untuk mengacaukan tim kandidat dalam menganalisa dan merancang strategi pemenangan.

Elektabilitas (hasil survei) yang menurun, jika dibandingkan dengan kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Jokowi, menjadi kalkulasi yang membingungkan. Seperti menghitung dengan kalkulator yang rusak, pada kolom debet dan kredit yang tidak seimbang. Maka, layak dicurigai angka elektabilitas itu hanyalah sebuah angka semu –tanpa kredibilitas teori dan hitungan–, dengan random sampling yang tidak random-random amat. Tapi dipilih dan selektif untuk menghasilkan angka jebakan.

Sekali lagi, apakah ini sebuah gejala krisis politik, atau kah hanya sebuah ‘jebakan batman’ para ‘pengamen angka’, yang berdasarkan pesanan sengaja ingin mengacaukan stategi lawan politik dan harapan publik?

Wallahualam, semoga masyarakat masih memiliki cukup kewarasan, dan tidak terjebak oleh bualan dan permainan para aktor politik yang menyesatkan. (Ad Agung Sulistyo)

Category: Scrutiny 2018

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate