Kereta Misterius di Tiongkok

Dalam suasana berkabut dan pengawalan sangat ketat, kereta-api lapis baja bercorak hijau-kuning melintasi Jembatan Persahabatan dua negara. Kereta misterius ini melaju dari Korea Utara dan berhenti di ibu kota Tiongkok. 23 pengendara sepeda motor bersenjata mengawal di jalan suram Beijing, menghalau masyarakat yang tengah berada di Lapangan Tiananmen.

Lawatan resmi ke luar negeri yang pertama kali dilakukan oleh Kim Jong Un sebagai pemimpin tertinggi Korea Utara itu akan menjadi peristiwa bersejarah yang penuh spekulasi. Pasalnya, Kim tengah menyiapkan pertemuan lain dengan ‘rival’nya, yakni Presiden Korea Selatan Moon Jae-in di bulan April, dan dengan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada bulan Mei.

Meskipun pertemuan-pertemuan tersebut memberi harapan baru bagi perdamaian di Semenanjung Korea, dan beberapa pihak memprediksi adanya perbaikan situasi -Kim melunak, dan mulai bicara tentang denuklirisasi-, namun jalan perdamaian masih sangat panjang dan berliku terutama dalam urusannya dengan persenjataan nuklir.

Urusan rudal nuklir masih menimbulkan friksi yang belum selesai antara AS dengan Korea Utara serta Rusia, demikian pula Tiongkok. Pemimpin tertinggi Korea Utara itu telah menguji lusinan rudal dan perangkat nuklir keenamnya pada tahun lalu. Rudal balistik antar-benua terbarunya meluncur 10 kali lebih tinggi dari stasiun luar angkasa internasional, dan secara teoritis mampu menghancurkan setiap sudut Amerika Serikat. Kim sempat menyombongkan diri, ”Seluruh wilayah daratan Amerika berada dalam jangkauan serangan nuklir kami.”

 

Amerika Kian Terdesak

Setelah Tiongkok menunjukkan strategi geopolitik yang cukup agresif di kawasan Semenanjung Korea, hubungan baik antara Tiongkok dan Korea Utara nantinya akan semakin mempersulit dominasi AS atas kawasan tersebut. Tiongkok adalah ‘induk semang’ yang setia. Dukungan diplomatik dan logistik persenjataan pada Korea Utara dibarengi dengan bantuan di sektor ekonomi. Tidak kurang dari 90 persen impor gas alam dan minyak bumi Korea Utara disokong oleh Tiongkok.

Saat Beijing dan Washington belum juga berdamai, ketegangan baru muncul dengan pengusiran sejumlah diplomat intelijen Rusia oleh AS sebagai reaksi atas terbunuhnya mantan mata-mata Rusia di Inggris, awal bulan ini. Racun saraf yang menciderai Sergei Skripal dan putrinya telah menimbulkan ketegangan diplomatik di AS dan Eropa. Hal tersebut menambah ketegangan antar aliansi sekutu. 

Rusia yang sejak lama telah mendukung tetangganya itu berniat mengembangkan nostalgia ekspor batubara (dari Serbia ke negara-negara di Asia melalui jalur Rajin di Korea Utara) menjadi kerjasama perdagangan yang saling menguntungkan. ‘Jembatan Persahabatan’ baru yang dapat meningkatkan kerjasama perdagangan di antara keduanya akan segera dibangun.

Persekutuan sekecil apapun yang mungkin terjadi antara Korea Utara-Tiongkok-Rusia, akan merepotkan rencana AS untuk mendominasi kawasan Semenanjung Korea. Koleganya, Korea Selatan, yang cenderung terjepit di dalam kawasan tentu akan memilih diam untuk menyelamatkan posisi –jika tidak kemudian berbalik mendukung ‘saudara’nya.

CNN.com (27/3/2018) memberikan laporan prediksi dari Tong Zhao, seorang ahli Korea Utara yang menyimpulkan, ”Mereka tahu pertemuan itu sangat penting tetapi juga sangat berisiko, ada banyak ketidakpastian. Jika pertemuan itu gagal, AS dapat menyatakan bahwa diplomasi telah gagal dan beralih ke pendekatan yang lebih koersif, hingga menggunakan kekuatan militer.”

Untuk hal itu, Donal Trump sangat mungkin menyodorkan Michael Pompeo sebagai juru runding dalam diplomasi Korut-AS nanti. Sebagai mantan perwira Angkatan Darat dan pejabat tinggi intelijen, Pompeo bukanlah sosok yang mudah mundur dari garis politik luar negeri AS, terutama dalam menekan lawan. Akhirnya, hal itu akan mempersulit terciptanya situasi yang diharapkan.

  

Indonesia: Bebas-Aktif

Sepanjang sejarah, Indonesia adalah salah satu negara yang memiliki hubungan diplomatik paling konsisten dengan Korea Utara. Kedekatan ideologis dan sejarah terbangun sejak Presiden Soekarno meninggalkan posisi netral pada masa Perang Dingin, dan merapat ke Blok Timur. Hingga tahun 1957, dengan perantaraan Tiongkok dan Uni Soviet pada awalnya, menandatangani kerja sama perdagangan yang cukup besar untuk komoditi industri dan rumah tangga.

Meski sempat vakum pada masa Orde Baru, restorasi hubungan itu terjadi di era Reformasi, dan bertahan hingga kini. Jalinan hubungan baik yang tercipta bahkan di masa krisis (sanksi internasional atas Korea Utara) tahun 2017, menimbulkan persepsi positif, kepercayaan dan menghargai di antara keduanya; tidak hanya di level pemerintah, bahkan di tingkat masyarakat.

Dengan Korea Selatan, Indonesia juga memiliki hubungan kerja sama ekonomi yang konsisten. Sektor transportasi yang mencapai 1,9 milyar USD menjadi capaian tertinggi tahun ini.

Maka, peran aktif yang dapat dilakukan Indonesia adalah menjadi mediator dalam “Korean Conflict”. Jika reunifikasi kedua negara dianggap sebagai cita-cita yang terlalu tinggi, baiklah hubungan diplomatik keduanya dapat bertahan dalam kerja sama ekonomi, pendidikan, dan budaya. Hal-hal tersebut dapat meredam ketegangan yang semakin melebar dan melibatkan banyak negara di luar kawasan.

Indonesia juga memiliki kesempatan untuk mendekatkan hubungan Korea Utara dengan Amerika Serikat. Hubungan baik Indonesia-Korea Utara dan Indonesia-Amerika Serikat adalah modal untuk berperan aktif dalam konferensi-konferensi keduanya yang bakal dilakukan di kemudian hari.

Jika ditanya, apa manfaatnya hal tersebut bagi Indonesia, selain membuktikan politik luar negerinya yang bebas-aktif? Pertama, meredanya ketegangan di Semenanjung Korea berdampak langsung pada ekspor-impor yang dilakukan Indonesia dengan banyak negara yang terkait secara langsung maupun tidak langsung pada konflik tersebut, seperti: Korea Utara, Korea Selatan, Tiongkok, Rusia; juga negara di luar kawasan, seperti: Amerika Serikat, Jepang, juga negara-negara di Eropa dan Asia Tenggara.

Kedua, keberhasilan peran mediasi yang dilakukan dapat meningkatkan kekuatan diplomatik Indonesia di mata dunia, dan memberikan poin besar terkait rencana Indonesia untuk menjadi anggota Dewan Keamanan PBB.

Ketiga, sekecil apapun kemungkinannya, perang harus diperhitungkan. Meredakan ketegangan antar sekutu yang bertikai akan menghindari terjadinya Perang Nuklir yang berdampak langsung pada Indonesia. Semenanjung Korea hanya berjarak tidak kurang 3.000 kilometer dari Indonesia. Bayangkan dampak dari radiasi nuklir bagi penduduk Indonesia! (Ad. Agung Sulistyo)

Category: Scrutiny 2018

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate