Di antara serangan bom bertubi-tubi yang menewaskan ratusan orang, Presiden Jokowi tetap ‘nekat’ datang ke Afghanistan. Kunjungan resmi sebagai bentuk solidaritas atas persoalan yang tengah dihadapi negeri itu, nyatanya pun dipandang sebagai pencitraan oleh sebagian orang. Kalau memang benar, ini pasti salah satu pencitraan yang sangat mahal harganya, karena nyawa sebagai taruhan.

Presiden Joko Widodo disambut Presiden Ashraf Gani dalam kunjungan kenegaraan di Istana Kepresidenan Afghanistan (foto: Biro pers Setpres)

Wakil Ketua Majelis Syuro Partai Keadilan Sejahtera Hidayat Nur Wahid memuji kedatangan Presiden Jokowi ke Afghanistan. Sedangkan Fadli Zon menganggap Presiden Jokowi yang menjadi imam shalat Dzuhur dalam kunjungan itu sebagai sebuah pencitraan. Untuk menilai itu semua, kita harus melihat lebih jernih dari seluruh rangkaian peristiwa yang lebih lengkap di sana.

Siang itu di Kabul (27/1/2018), saat perwakilan Indonesia dan Afghanistan membahas pengamanan rencana kunjungan Presiden Jokowi, bom yang disembunyikan oleh Taliban di dalam ambulans itu meledak, dan menewaskan 103 orang. Rencana kunjungan yang telah ditunggu 57 tahun, sejak terakhir kali Presiden Soekarno melawat ke sana, nyaris batal.

Namun, Senin 29 Januari 2018, beberapa jam setelah terjadi penyerangan di kompleks Universitas Pertahanan Marshal Fahim, 20 kilometer dari Bandara Hamid Karzai, Pesawat Kepresidenan RI mendarat. Dari bandara, rombongan Presiden Jokowi masih harus melanjutkan perjalanan ke Istana Kepresidenan Afghanistan. Sejumlah panser dan helikopter turut mengawal 6 kilometer perjalanan yang menegangkan. “Perjalanan dari bandara suasananya berdebar-debar,” kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung, seperti dilansir oleh Harian Kompas (30/1/2018).

Disambut dengan turunnya salju, untaian rasa dukacita mewakili rakyat Indonesia, langsung disampaikan Presiden Joko Widodo saat bertemu dengan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani. Kunjungan resmi ini bukan sekedar balasan atas kunjungan Presiden Ghani ke Indonesia tahun lalu. Pertemuan sekitar enam jam itu adalah awal dari proses peningkatan kerjasasama kegiatan bina damai (peace building) dan rekonsiliasi di Afghanistan.

Proses bina damai membutuhkan transformasi politik dan ekonomi. Maka, inisiatif Indonesia guna mendorong kerja sama ekonomi menjadi hal penting bagi proses perdamaian di Afghanistan. Saat ini, pembangunan kompleks Indonesia Islamic Centre di Kabul menjadi simbol dukungan dan persahabatan Indonesia-Afghanistan.

 

Presiden Joko Widodo menjadi imam shalat Dzuhur di Afghanistan (foto: Biro pers Setpres)

Kunjungan Presiden Jokowi digenapi dengan menunaikan shalat Dzuhur berjamaah. Beliau ditampuk menjadi imam shalat, dengan Presiden Ghani sebagai makmum di saf pertama. Kemudian dilanjutkan dengan shalat sunnah, dengan posisi berganti; Presiden Ghani sebagai imam, dan Presiden Jokowi sebagai makmum. Sebelumnya, mereka sempat bertukar tutup kepala; Presiden Ghani memberikan sorban pada Presiden Jokowi, dan Presiden Jokowi memberikan peci untuk dipakai oleh Presiden Ghani.

Inilah indahnya diplomasi budaya yang membungkus hubungan diplomatik dua negara. Jauh dari pencitraan pribadi seorang Jokowi, dan menolak ‘politics as the exercise of power’ secara sempit. Dalam hal ini, bertukar tutup kepala dan posisi dalam shalat menjadi simbol keterbukaan dan kesetaraan -prasyarat hubungan kerjasama yang bersahabat-.

Dari itu semua, melewati ‘perjalanan yang mendebarkan’, Indonesia telah membuktikan citra dirinya sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia, yang mampu menjadi motor perdamaian dunia. (Ad Agung Sulistyo)

Category: Scrutiny 2018

 

program Kuliah Umum yang menghadirkan para negarawan, guru bangsa, serta tokoh & ahli di bidangnya. 

program Diskusi Publik reguler yang mengangkat tema-tema penting, aktual, dan faktual.


Membaca DEBAT CAPRES Seri-2: Antara Capaian dan Optimisme Keberlanjutan Kebijakan

saksikan selengkapnya di:

YouTube Channel
youtube.com/c/parasyndicate